October 17, 2021

Situs Taruhan Online Terpercaya

Teraman & Terbaik Di Indonesia

Pernah Tertelan Air Laut? Ini Penyebab Rasa Asin Muncul di Lautan

Pernah Tertelan Air Laut? Ini Penyebab Rasa Asin Muncul di Lautan

Siapa saja yang sempat terhempas ombak di pantai tentu tahu semacam apa air laut itu. Rasa-rasanya betul-betul asin pekat serta tidak nikmat bila tertelan.

Salinitas yang dipunyai laut adalah hal penentu yang menjauhkannya dari tubuh air tawar seperti danau serta sungai. Tetapi apa sesungguhnya yang membuat laut lebih asin?

Untuk pahami kenapa air laut itu asin, Anda perlu tahu apakah itu garam serta darimanakah aslinya.

Diambil dari situs Mentalfloss.com, Senin (9/11/2020), secara kimiawi, garam ialah senyawa yang terdiri dari 2 barisan ion bermuatan bersimpangan.

Saat satu atom memiliki kandungan semakin banyak proton dibanding elektron, itu jadi ion bermuatan positif. Atom dengan semakin banyak elektron dibanding proton ialah ion negatif, atau anion. Atom dengan muatan bersimpangan memikat keduanya untuk membuat senyawa kimia.

Formasi kimiawi garam meja ialah natrium klorida, dengan natrium jadi ion positif serta klorida jadi ion negatif. Natrium serta klorida membuat sejumlah besar garam di air laut, tapi mereka bukan salah satu mineral yang berperan pada salinitas laut.

“Garam di laut tidak cuma natrium serta klorida itu ialah kombinasi dari beberapa kumpulan ion seperti magnesium serta kalsium , yang sejumlah besar berawal selaku bebatuan di darat,” Dr. Morgan Raven seorang pakar geokimia organik serta pakar geobiologi serta orang kepercayaan profesor pengetahuan bumi di University of California Santa Barbara, memberitahu Psikis Floss.

Sejumlah besar garam laut berawal dari batu-batuan. Karbon dioksida terlarut di air hujan membuat sedikit asam, serta saat hujan turun, dia mengurangi bebatuan di darat.

Mineral dari bebatuan ini larut ke sungai yang selanjutnya bawa garam ke laut. Seputar 85 % ion laut ialah natrium serta klorida, sedang magnesium serta sulfat membuat seputar 10 %.

Tidak seluruhnya garam yang usai di lautan. Garam ialah zat pendukung kehidupan, serta banyak garam di air laut dimakan oleh hewan.

Tetapi karena suplai limpasan yang konstan dari permukaan, tingkat salinitas tetap stabil. Lautan bisa memercayakan satu sumber kembali untuk kandung garamnya yakni cairan hidrotermal.

Sirkulasi laut dalam dipanaskan oleh magma dari bawah kerak bumi, serta jadi cukup panas hingga mengakibatkan reaksi kimia di antara air laut serta mineral dari bebatuan disekelilingnya. Gunung berapi bawah air ialah contoh lain dari batu-batuan panas serta air yang menambah semakin banyak garam ke laut.

Tiap sisi lautan itu asin, tapi berapa asinnya berbeda bergantung di mana Anda ada.

“Salah satunya fakta beberapa pakar kelautan senang memakai salinitas untuk pelajari lautan ialah hanya karena ada cara-cara yang bisa menggantinya, serta semua berlangsung di atas laut atau di landasan laut,” kata Raven.

“Misalkan, air permukaan di Laut Mediterania lebih asin dibanding di Pasifik ekuator sebab kenaikan evaporasi di cuaca kering memfokuskan garam, sesaat hujan di Khatulistiwa mencairkan garam.”

Salinitas tidak menempel pada air laut. Ini ialah dari hasil memberikan serta terima ion yang masuk serta keluar laut. Proses yang serupa berlangsung di perairan lain, tapi konsumsi ion tidak selamanya lumayan tinggi untuk bikin air betul-betul asin. Itu kenapa sungai serta saluran yang mengirim garam ke laut masih dipandang air tawar. Pengenceran dari hujan condong menyeimbangi ion apa saja yang mereka membawa.

Lautan saat itu, bertindak selaku tempat pembuangan garam dunia, serta tidak ada jumlah pengenceran yang bisa menggantinya.

Bermacam macam ikan laut seperti ikan hias sampai hiu sirip serta hiu paus bisa nampak dengan mata telanjang.

error: Content is protected !!